Beberapa Post Terakhir
Tampilkan postingan dengan label Sinau Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sinau Umum. Tampilkan semua postingan

Pengetahuan,Ilmu dan Filsafat



1.PENGETAHUAN

Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Pengetahuan termasuk, tetapi tidak dibatasi pada deskripsi, hipotesis, konsep, teori, prinsip dan prosedur benar atau berguna.

Dalam pengertian lain, pengetahuan adalah pelbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut.

Pengetahuan adalah informasi yang telah dikombinasikan dengan pemahaman dan potensi untuk menindaki; yang lantas melekat di benak seseorang. Pada umumnya, pengetahuan memiliki kemampuan prediktif terhadap sesuatu sebagai hasil pengenalan atas suatu pola. Manakala informasi dan data sekedar berkemampuan untuk menginformasikan atau bahkan menimbulkan kebingungan, maka pengetahuan berkemampuan untuk mengarahkan tindakan. Ini lah yang disebut potensi untuk menindaki.

2. ILMU

 Ilmu berasal dari kata ‘alima(bahasa arab)yang berarti tahu,ilmu maupun science secara etimologis berarti pengetahuan.Science berasal berati dari kata scio,scire(bahasa latin yang berarti tahu). Mohamad hatta menuliskan : tiap-tiap ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam satu golongan masalah yang sama tabit maupun kedudukannya tampak dari luar. Maupun menurut bangunannya dari dalam

Prof.Drs Harsojo, Guru besar antropologi di universitas Pajajaran menerangkan bahwa ilmu adalah akumulasi pengetahuan yang sistematis, suatu pendekatan atau metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris yaitu dunia yang terikat oleh faktor ruang dan waktu, dunia yang pada prinsipnya dapat diamati, oeh pancaindra. Suatu cara menganalisa yang mengizinkan kepada ahli-ahlinya untuk menyatakan suatu proporsi bentuk.[1]

S. Hornby mengartikan ilmu sebagai susunan atau kumpulan pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian dan percobaan dari fakta-fakta.

R. Harre menulis ilmu adalah a collection of well-attested theories which explain the patterns regularities and irregularities among carefully studied phenomena, atau kumpulan teori-teori yang sudah diuji coba yang menjelaskan tentang pola-pola yang teratur atau pun tidak teratur di antara fenomena yang dipelajari secara hati-hati. (R. Harre, The Philosophies of Science, an Introductory Survey (London: The Oxford University Press, 1995), hal. 62.)

Ilmu juga dapat didefinisikan : Ilmu adalah rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif  dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis mengenai gejala-gejala kealaman, kemasyarakatan atau individu untuk tujuan mencapai  kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan ataupun melakukan penerapan. (The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, Liberty,Yogyakarta,1991,hal.90)

 Ilmu tidak cukup perenungan dan pencaman (pendalaman berfikir saja) melainkan mesti berkembang melalui pencerapan indraan dan [engindraan (sensasion) ,pengumpulan dan perbandingan data, penilaian jumlah berupa perhitungan ,penimbangan , pengukuran , meningkat dari data tentang hal-hal khusus pada yang khusus ( deduksi), menarik kias analogi antara peristiwa yang ada kesamaannya serta berfikir dengan menarik kesimpulan yang logical, yang dapat dipertanggung jawabkan oleh logika., Pengujian berupa pengalaman positif (verification) secara empiric ,ujian ini disebut percobaan (experiment). Percobaan harus bersifat obyektif yakni menghasilkan kesimpulan yang sama, meskipun dilakukan oleh berbagai kalangan. Praduga (hipotesis) hanyalah titik tolak pertama yang mesti diubah dan diganti kalau ternyata ada kekurangannya atau salah. Berdasarkan ujian yang keras dari pengalaman, setelah dinyatakan kebenarannya yang obyektif barulah sesuatu itu disebut dalil (proposition), kumpulan dalil itu disebut teori.

Ilmu jika digolongkan berdasarkan sifatnya maka terbagi menjadi;

   1. RASIONAL : proses pemikiran yang berlangsung dalam ilmu itu harus dan hanya

    tunduk pada hukum-hukum logika.

2. EMPIRIS : kesimpulan yang didapatnya harus dapat ditundukkan pada verifikasi

     pancaindra manusia.

   3. SISTEMATIS : fakta yang relevan itu harus disusun dalam suatu kebulatan ya                           konsisten

4. UMUM harus dapat dipelajari oleh setiap orang, tidak bersifat esoterik

5. AKUMULATIF: Kebenaran yang diperoleh selalu dapat dijadikan dasar untuk

memperoleh kebenaran yang baru.[2]


3.FILSAFAT                                    

Filsafat dalam bahasa Inggris, yaitu philosophy, adapun istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia, yang terdiri atas dua kata: philos (cinta) atau philia(persahabatan, tertarik kepada) dan shopia(hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis,inteligensi). Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran. Plato menyebut Socrates sebagai philosophos (filosof) dalam

pengertian pencinta kebijaksanaan. Kata falsafah merupakan arabisasi yang berarti pencarian yang dilakukan oleh para filosof. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata filsafat menunjukkan pengertian yang dimaksud, yaitu pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab asal dan hukumnya. Manusia filosofis adalah manusia yang memiliki kesadaran diri dan akal sebagaimana ia juga memiliki jiwa yang independen dan bersifat spiritual.

Sebelum Socrates ada satu kelompok yang menyebut diri mereka sophist (kaum sofis) yang berarti cendekiawan. Mereka menjadikan persepsi manusia sebagai ukuran realitas dan menggunakan hujah-hujah yang keliru dalam kesimpulan mereka. Sehingga kata sofis mengalami reduksi makna yaitu berpikir yang menyesatkan. Socrates karena kerendahan hati dan menghindarkan diri dari pengidentifikasian dengan kaum sofis, melarang dirinya disebut dengan seorang sofis (cendekiawan). Oleh karena itu istilah filosof tidak pakai orang sebelum

Socrates (Muthahhari, 2002).

Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni, filsafat teoretis dan filsafat praktis. Filsafat teoretis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam, seperti: fisika, biologi, ilmu pertambangan, dan astronomi; (2) ilmu eksakta dan matematika; (3) ilmu tentang ketuhanan

dan metafisika. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak); (2) urusan rumah tangga; (3) sosial dan politik.

Secara umum filsafat berarti upaya manusia untuk memahami segala sesuatu secara sistematis, radikal, dan kritis. Berarti filsafat merupakan sebuah proses bukan sebuah produk. Maka proses yang dilakukan adalah berpikir kritis yaitu usaha secara aktif, sistematis, dan mengikuti pronsip-prinsip logika untuk mengerti dan mengevaluasi suatu informasi dengan tujuan menentukan apakah informasi itu diterima atau ditolak. Dengan demikian filsafat akan terus berubah hingga satu titik tertentu (Takwin, 2001).

Defenisi kata filsafat bisa dikatakan merupakan sebuah masalah falsafi pula. Menurut para ahli logika ketika seseorang menanyakan pengertian (defenisi/hakikat) sesuatu, sesungguhnya ia sedang bertanya tentang macam-macam perkara. Tetapi paling tidak bisa dikatakan bahwa “falsafah” itu kira-kira merupakan studi yang didalami tidak dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi engan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk ini, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu dan akhirnya dari proses-proses sebelumnya ini dimasukkan ke dalam sebuah dialektika. Dialektika ini secara singkat bisa dikatakan merupakan sebuah bentuk daripada dialog.

Adapun beberapa pengertian pokok tentang filsafat menurut kalangan filosof adalah:

1.Upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap tentang      seluruh realitas.

2.Upaya untuk melukiskan hakikat realitas akhir dan dasar secara nyata.

3.Upaya untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan sumber daya, hakikatnya, keabsahannya, dan nilainya.

4. Penyelidikan kritis atas pengandaian-pengandaian dan pernyataan-pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan.

5. Disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu Anda melihat apa yang Anda katakan dan untuk menyatakan apa yang Anda lihat.

Plato (427–348 SM) menyatakan filsafat ialah pengetahuan yang bersifat untuk mencapai kebenaran yang asli. Sedangkan Aristoteles (382–322 SM) mendefenisikan filsafat ialah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Sedangkan filosof lainnya Cicero (106–043 SM) menyatakan filsafat ialah ibu dari semua ilmu pengetahuan lainnya. Filsafat ialah ilmu pengetahuan terluhur dan keinginan untuk mendapatkannya.

Menurut Descartes (1596–1650), filsafat ialah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikannya. Sedangkan Immanuel Kant (1724–1804) berpendapat filsafat ialah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal segala pengetahuan yang tercakup di dalamnya 4 persoalan:

a. Apakah yang dapat kita ketahui?

Jawabannya termasuk dalam bidang metafisika.

b. Apakah yang seharusnya kita kerjakan?

Jawabannya termasuk dalam bidang etika.

c. Sampai di manakah harapan kita?

Jawabannya termasuk pada bidang agama.

d. Apakah yang dinamakan manusia itu?

Jawabannya termasuk pada bidang antropologi.

 Pendapat lain;

a.Apa?

Jawaban hakikat sesuatu hal,tidak lagi empiris sehingga umum,universal,abstrak.

b.Bagimana?

Jawaban berupa deskriptif

c.Mengapa?

Jawaban sebab,asal muasal/hukum kaussalitas.

d.Kemana?

Jawaban sesuatu yang terjadi dimasa dulu,srkarang dan akan datang.


B.CONTOH,PERBEDAAN DAN HUBUNGAN


Pengibaratan ilmu dan pengetahuan adalah orang desa tau nama-nama dari empon-empon,ada jahe,kunyit,kunir,temu ireng dan sebaiganya.Kemudian datanglah seorang peneliti ilmiah ke desa meneliti meramu empon-empon.Hasil penelitiannya berupa jamu ramuan dari empon-empon.Dari contoh  ini adalah pengetahuan berupa warga tahu nama-nama empon-empon,sedangkan ilmu adalah ramuan jamu yang didapat dari penelitian yang memerlukan sebuah metode,sistem tertentu.

Perbedaan pengetahuan,ilmu dan filsafat ialah tingkat kedalaman tahunya.Pengetahuan hanya sekedar tahu,tanpa ada metode ilmiah yang sistematis.Ilmu pengolahan lebih lanjut  pengetahuan,pengolahannya menggunakan metode ilmiah.Sedangkan filsafat adalah lebih  pada makna,hakikat,hikmah dari setiap pemikiran(ilmu),realitas dan kejadian.

Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling berkaitan baik secara subtansial maupun historis.Kelahiran suatu ilmu tidak dapat dipisahkan dari peranan filsafat,sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat filsafat.ilmu sendiri terlahir dari pengetahuan yang tersistem oleh metode.


[1] http://www.foxitsoftware.com/dr Liza/Pengantar filsafat ilmu

[2] .http;wikipedia.com
 

Pengertian Fawatihus Suwar.


Fawatihus suwar Secara bahasa fawatih adalah jama’ dari fatihah pembukaan atau awalan sedangkan kata asuwar adalah jama’ dari kata as-surah.secara etimilogis, fawatih al Suwar berarti pembukaan-pembukaan surat, karena posisinya berada di awal surat-surat dalam Al Qur’an. Apabila dimulai dengan huruf-huruf hijaiyah, huruf tersebut sering dinamakan dengan Ahruf Muqatta’ah (huruf-huruf yang terpisah) karena posisi dari huruf tersebut yang cenderung menyendiri dan tidak bergabung membentuk suatu kalimat secara kebahasaan.
 Dari segi pembacaannya pun, tidaklah berbeda dari lafazh yang diucapkan pada huruf hijaiyah. Manna Khalil Al Qhatthan dalam kitabnya Mabahits fi ulumil Qur’an mengidentikan fawatihus suwardengan huruf-huruf yang terpisah (Al ahruful muqotho’ah). Menurut Ibnu Abi Al Asba’, seperti dikutip Ahmad bin Musthafa, bahwa pembuka-pembuka surat itu untuk menyempurnakan dan memperindah bentuk-bentuk penyampaian, dengan sarana pujian atau melalui huruf-huruf.

 Pengertian Khawatimus Suwar
Khawatim merupakan bentuk jamak dari kata khatim , yang berarti penutup atau penghabisan. Secara bahasa, fawatih al-suwar berarti penutup surat-surat Al-Quran. Menurut istilah. Fawatih al-suwar adalah ungkapan yang menjadi penutup dari surat-surat Alquran yang memberi isyarat berakhirnya pembicaraan sehingga merangsang untuk mengetahui hal-hal yang dibicarakan sesudahnya.


MACAM-MACAM FAWATIHUS SUWAR DAN KHAWATIMUS SUWAR

Macam-macam Fawatihus Suwar

Berikut adalah pemaparan yang diutarakan oleh Al Qasthalani :

a. Pembukaan dengan pujian kepada Allah (al-istiftahbil al tsana). Pujian kepada Allah ada dua macam, yaitu :
1) Menetapkan sifat-sifat terpuji dengan menggunakan salah satu lafal berikut :
·    Memakai lafal hamdalah yakni dibuka denganالحمدلله , yang terdapat dalam 5 surat yaitu : Q.S. Al Fatihah, Al An’am, Al Kahfi, Saba, dan Fathr.
·    Memakai lafal تبارك, yang terdapat dalam 2 surat yaitu : Q.S. Al Furqon dan Al Mulk.
2) Mensucikan Allah dari sifat-sifat negatif (tanzih‘ans sifatin naqshin) dengan menggunakan lafal tasbih terdapat dalam 7 surat yaitu : Q.S. Al Isra, al A’la, al Hadid, al Hasyr, as shaff, al jum’ah, dan at Taghabun.

b. Pembukaan dengan huruf-huruf yang terputus-putus (Al AhrufulMuqoto’ah).
c.Pembukaan dengan panggilan (al istiftah bin nida).
d.Pembukaan dengan kalimat (jumlah) khabariyah (al istiftah bi al jumal al khabariyah).
Jumlah khabariyah dalam pembukaan surat ada dua macam, yaitu :
·    Jumlah Ismiyyah
·    ·    Jumlah Fi’liyyah
e. Pembukaan dengan sumpah (al istiftah bil qasam).
f. Pembukaan dengan syarat (al istiftah bis syarat).
g. Pembukaan dengan kata kerja perintah (al istiftah bil amr).
h. Pembukaan dengan pertanyaan (al istiftah bil istifham).
i. Pembukaan dengan do’a (Al Istiftah bid du’a).
j. Pembukaan dengan alasan (al istiftah bit ta’lil).









Tabel Fawatih al-Suwar pada Surat al-Qur’an

NO.    FAWATIH AL-SUWAR    NAMA SURAT      
1.    الم    Al-Baqarah, Ali Imran, al-Ankabut, al-Rum, Luqman dan al-Sajadah      
2.    المص    Al-A'raf      
3.    الر    Yunus, Hud, Yusuf, Ibrahim, al-Hijr      
4.    المر    Al-Ra'd      
5.    كهيعص    Maryam      
6.    طه    Tha ha      
7.    طس    Al-Naml      
8.    طسم    Al-Syu'ara, al-Qashash      
9.    يس    Ya Sin      
10.    ص    Shad      
11.    حم    Al-Mu'min, Fushshilat, al-Zukhruf, al-Dukhan, al-Jatsiyah, al-Ahqaf      
12.    حمعسق    Al-Syura      
13.    حق    Qaf      
13.    ن    Al-Qalam   


Macam-macam Khawatimus Suwar

Imam As Suyuthi dalam membahas khawatim al-suwar tidak begitu rinci sebagaimana menerangkan fawatihus suwar. Ia menerangkan beberapa bentuk term sebagai penutup dari surat-surat tersebut. Di situ diterangkan bahwa penutup surat diantaranya berupa : do’a, wasiat, faroidl, tahmid, tahlil, nasihat-nasihat, janji dan ancaman, dll.
Menurut sementara penelitian terhadap penutup surat-surat al Qur’an sedikitnya Kahawatimus suwar ada 18 macam yaitu :

a. Penutup dengan mengagungkan Allah (At Ta’dzim) terdapat dalam 17 surat, yaitu : 1). Q.S. Al Maidah, 2). Al Anfal, 3). Al Anbiya, 4). An Nur, 5). Lukman, 6). Fathr, 7). Fushilat. 8). Al Hujurat, 9). Al Hadid, 10). Al Hasyr, 11). Al Jum’ah, 12). Al Munafiqun, 13). At Thaghabun, 14).At Thalaq, 15). Al Jin, 16). Al Mudatsir, 17). Al Qiyamah, dan 18). At tin.

b. Penutupan dengan anjuran ibadah dan tasbih, terdapat dalam 6 surat, yaitu : 1). Q.S. al A’raf, 2). Hud, 3). Al Hijr, 4). At Thur, 5). An Najm, dan 6). Al ‘Alq.

c. Penutupan dengan pujian (at Tahmid). Terdapat dalam 11 surat. Yakni : 1). Q.S. Al Isra, 2). An Naml, 3). Yasin, 4). As Shaff, 5). As Shafat, 6). AzZumar, 7). Al Jatsiyah, 8). ArRahman, 9). Al Waqi’ah, 10). Al Haqqah, dan 11). AnNashr.

d. Penutupan dengan do’a, terdapat dalam 2 surat, yaitu : 1) Q.S. Al Mu’minun, 2). Al Baqoroh.

e. Penutupan dengan wasiat, terdapat dalam 7 surat, yaitu : 1). Ar Rum, 2). Ad Dukhan, 3). As Shaff, 4). Al A’la, 5). Al Fajr, 6). Ad Duha, 7). Al ‘Ashr.

f. Penutupan dengan perintah dan masalah taqwa, terdapat dalam 3 surat, yaitu : Q.S. Ali Imron, An Nahl, dan Al Qomar.

g.Penutupan dengan masalah kewarisan, terdapat dalam surat : Q.S. AnNisa.

h. Penutupan dengan janji dan ancaman, di antaranya terdapat dalam surat : Q.S. Al Mujammil, Al Humazah, dll.

i. Penutupan dengan hiburan bagi Nabi saw, terdapat dalam Q.S. Al Kautsar, Al Kafirun, dll.

j. Penutupan dengan sifat-sifat Al Qur’an, seperti dalam surat : Q.S. Yusuf, Q.S. Shad, dan Q.S. Al Qolam.

k.Penutupan dengan bantahan (al jadl), terdapat dalam surat :  Q.S. ArRa’d.

l. Penutupan dengan ketauhidan, terdapat dalam surat : Q.S. At Taubah, Q.S. Ibrahim, Q.S. Al Kahfi, Q.S. Al Qashash, dll.

m.Penutupan dengan kisah, terdapat dalam surat : Q.S. Maryam, at Tahrim, ‘Abasa, dan Al Fil.

n.Penutupan dengan anjuran jihad, terdapat dalam surat : Q.S. Al Haj.

o. Penutupan dengan perincian maksud, seperti terdapat dalam surat :  Q.S. Al Fatihah, As Syu’ara, At Takwir, dll.

p. Penutupan dengan pertanyaan, seperti dalam surat :  Q.S. Al Mulk dan Al Mursalat.

KONTROVERSI SEKITAR AHRUF MUQAT HA’AH
Dalam Al-qur’an terdapat 29 surat yang diawali dengan huruf-huruf muqatha’ah,yaitu huruf-huruf yang membentuk sebuah kalimat yang tidak bisa diartikan dan dipahami,namun huruf–huruf ini merupakan rahasia dari rahasia-rahasia yng terkandung dalam al-qur’an yang hanya Allah yang tahu.

PENDAPAT PARA MUFASSIR
Para mufassir berbeda pendapat tentang pengertian dari huruf-huruf muqatha’ah dalam al-qur’an al karim seperti dalam tafsir ibnu katsir bahwa para mufassir berbeda pendapat dalam arti huruf muqatha’ah, huruf muqatha’ah merupakan yang termasuk rahasia dari ilmu Allah dan hanyalah Allah yang tahu akan hakikat tersebut,begitu juga pendapat tersebut tertulis dalam kitab aysar tafasir.

Adapun dalam tafsir al mizan disebutkan 11 pendapat para mufassir tentang huruf muqatha’ah yang dinukilkan dari thabrasi dalam majma’ul bayan, dan berikut poin-poin penting tentang pendapat para mufassir: ia merupakan mutasyabihaat (yang tidak diketahu artinya) dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah SWT. Merupakan nama dari surat yang jatuh padanya huruf tersebut.seperti alif lam mim,maka ia merupakan nama lain dari surat al-baqarah. Ia merupakan nama dari nama-nama Al-qur’an secara keseluruhan.
ia merupakan nama dari nama-nama Allah. Ia merupakan nama-nama Allah yang terpotong,dan akan menjadi nama Allah jikalau digabung,seperti alif lam ra’,ha mim,nun maka akan menjadi Ar-rahman seperti diriwayatkan dari sa’id ibnu jabir.
dalam al-amtsal diriwayatkan hadits dari imam Husain as: “para kaum kafir quraisy dan yahudi tidak mempercayai Al-qur’an dan meeka berkata ‘ini merupakan sihir’ maka Allah berfirman :”alif lam mim….dst, (dalam surat al-baqarah)dan wahai Muhammad ini merupakan kitab yang aku turunkan padamu ialah huruf muqatha’ah yaitu alif, lam, mim.dan merupakan huruf-huruh dari bahsa kalian,maka datangkanlah yang seperti itu jika kalian banar”
                 Huruf muqatha’ah yang terdapat diawal surat maryam didalam al-amstal disebutkan bahwa huruf-huruf muqatha’ah tersebut mengandung arti nama dari nama Allah yaitu kaf (kafii) berarti maha mencukupi ha’ (hādi) berarti petunjuk ya’ (waliy) ‘ain (alīm) berarti maha mengetahui dan shad (shadiqul wa’di) berarti maha menepati janji.

Namun sebagian mufassir menafsirkan huruf-huruf ini pada peristiwa yang menimpa Al-husain as di karbala dengan pengertian ha’ berarti halaka itrah annabiy musibah agung yang menimpa keluarga nabi SAW, ya’ berarti yazid,pemerintah dhalim yang berkuasa di zaman al-husain,’ain berarti athasy, kehausan yang menimpa Al-husain dan keluarganya di karbala, shad berarti shabar, kesabaran yang sangat agung Al-husain, keluarganya dan sahabatnya demi menegakkan islam yang dibawa rasulullah SAW. Huruf muqatha’ah ada pada awal surat,dan setelahnya sebagian banyak menerangkan keagungan Al-qur’an, dan hal ini menunjukkan bahwa huruf tersebut sebagai bukti dari keagungan al-qur’an sebagai mukjizat sepanjang zaman,dan tak ada yang mampu menandinginya.

PENDAPAT ULAMA TENTANG FAWATIHUS SUWAR DAN KHAWATIMUS SUWAR
Menurut Ibnu Abi Al Asba’
Pembuka-pembuka surat itu untuk menyempurnakan dan memperindah bentuk-bentuk penyampaian,dengan sarana pujian atau melalui huruf-huruf.Selain itu ia dipandang merangkum segala materi yang akan disampaikan lewat kata-kata awal dalam hal ini,surat Al-fatihah dapat digunakan sebagai ilustrasi dari suatu pembuka yang merangkum keseluruhan pesan ayat dan surat yang terdapat didalam Al-Qur’an.
Menurut Al-Hubbi

Awal surat yang berupa huruf merupakan bentuk peringatan kepada nabi.Dikatakan bahwa allah mengetahui bagian-bagian waktu yang nabi sebagai seorang manusia kadang sibuk.Maka dari itu jibril menyampaikan firman Allah seperti Alif-lam-mim, Alif-lam-ra, dengan suara jibril supaya nabi menerima dan memperhatikannya. Sedangkan Sayyid Rashid Ridla dalam Al-Manar menyatakan bahwa huruf-huruf tersebut sebagai sebuah peringatan yang diutamakan pada ruh dan watak kejiwaan nabi yang mulia.Dalam hal ini ia tidak mengkhususkan pada siapa tanbih (peringatan) itu ditujukan.Sedang ulama lain memberikan keterangan bahwa tanbih itu ditunjukkan kepada kaum musyrikin di makkah dan ahli kitab di Madinah.As-Syafi’i berpendapat bahwa huruf-huruf awal surat merupakan rahasia Al-Qur’an. Ali Bin Abi Tholib  pernah berkata:
ان لكل كتاب صفوة وصفوة هذا الكتاب حروف التهجى
ا”sungguhnya bagi tiap-tiap kitab ada sari patinya.Saripati AlQur’an ini ialah huruf huruf hijayyahnya”.
Abu bakar Ash Sidiq pernah bersabda;
.Sedangkan menurut Suhaili,”mungkin jumlah huruf yang mengawali surat –surat setelah dihapus ulangan-ulangannya mengisyaratkan kelestarian umat islam.
Menurut kata kata Al-huwaiyi
             Beberapa ulama menarik pengertian dari firman Allah SWT Alif-lam-mim,ghulibatirrum(Alif-lam-mim,orang-orang romawi telah dikalahkan,)bahwa baitul maqdis,akan ditakhlukkan oleh kaum muslimin pada tahun 583 H dan ternyata hal itu terjadi,sebagaimana yang telah difirmankan Allah SWT Al-izz bin abdis-salam meriwayatkan bahwa,Ali bin Abi Thalib ra memperoleh pangerian akan terjadinya peperangan dengan Muawiyah dari huruf-huruf awalan haa(ringan)mim,’ain sin qaf.Sementara pendapat kaum syi’ah didalam kumpulan fawatih ini,apabila dibuang huruf yang berulang-ulang dari padanya terdapat pengertian yang memberi faedah bahwasanya:صراط علي حق نمسكه 
“Jalan yang ditempuh Ali adalah jalan yang benar,kita memegangnya”
Pendapat ini dibantah oleh ulama sunnah dengan suatu istinbath dari fawatih sendiri dari huruf-huruf yang dipakai oleh segologan syi’ah yang tidak berulang-ulang itu:    صح طريقك مع السنة
“Benarlah jalanmu bersama kaum ahlussunnah”
            Pentakwilan lain lagi yang didasarkan pada bilangan terkenal dengan nama ‘adda ubay jad.Para ulama dengan keras menolak dan mencela pentakwilan ‘adda ubay jad itu.Ibnu Hajar Asqalani memandangnya sebagai jelas-jelas kebathilan.Riwayat yang berasal dari Ibnu Abbas dapat dipastikan kebenarannya menegaskan bahwa pentakwilan ‘adda ubay jad sangat tercela.Riwayat tersebut juga mengisyaratkan bahwa,pentakwilan itu termasuk sihir,atau tidak terlampau jauh dari sihir.Pentakwilan itu tidak ada dasarnya dalam syari’at.2

Ahli hadits menukil dari Ibnu Mas’ud dan khulafa’Roshhidin
Bahwa beliu belia pernah berkata;
Sesungguhnya huruf-huruf ini adalah ilmu yang tersembunyi
dan rahasianya yang tertutup,yang hanya Allah sendiri yang mengetahuinya.
Kebanyakan ulama hanya mengutarakan pendapat dan menyerahkan makna yang hakiki kepada Allah.Mereka tidak berani memberikan pendapat secara pasti.
Urgensi Studi Fawatihus Suwar 

Al-Qur’an memiliki banyak keistimewaan dari segi makna dan kebahasaan. Fawatihus suwar merupakan salah satu realitas keistimewaan misterius yang terdapat di dalam Al Qur’an. Pemaparan tentang Fawatihus suwar khusunya menyangkut al huruf al muqatta’ah tidak banyak bahkan hampir tidak ada yang berhasil mengungkap latar belakang ataupun keterangan yang valid yang secara historis bisa membuktikan hubungan-hubungan fawatihus suwar. 

Dari segi makna, memang banyak sekali penafsiran-penafsiran spekulatif terhadap huruf-huruf itu. Dikatakan spekulatif, karena penafsiran-penafsiran mengenai hal itu tidak didahului pengungkapan konteks historisnya. Lain halnya dengan fawatihus suwar dalam bentuk lain misalnya Al Qasam (sumpah), An Nida’ (seruan), Al Amr (perintah), Al Istifham (pertanyaan) dan lain-lain. Para pengkaji lebih bergairah menyajikannya, seperti kitab tafsir Bintusy Syathi’. Pesan-pesan moralnya juga lebih bisa dimaknai secara rasional.
Urgensi telaah terhadap Fawatihus suwar tidak terlepas dari konteks penafsiran Al Qur’an. Penggalian-penggalian makna yang terlebih dahulu memalui karakter bab ini akan memberikan nuansa tersendiri, baik yang didasarkan kepada data historis yang kongkrit ataupun penafsiran yang menduga-duga. Lebih dari itu kita tentu meyakini eksistensi Al Qur’an kebesarannya, keagungannya, juga rahasia kemu’jizatannya.






















KESIMPULAN

Jadi secara etimilogis, fawatih al Suwar berarti pembukaan-pembukaan surat, karena posisinya berada di awalsurat-surat dalam Al Qur’an. Apabila dimulai dengan huruf-huruf hijaiyah, huruf tersebut sering dinamakan dengan Ahruf Muqatta’ah (huruf-huruf yang terpisah) karena posisi dari huruf tersebut yang cenderung menyendiri dan tidak bergabung membentuk suatu kalimat secara kebahasaaan.

Ibnu Abi Al Asba’ menulis sebuah kitab yang secara mendalam membahas tentang bab ini, yaitu kitab Al-Khaqathir Al-Sawanih fi Asrar Al-Fawatih. Ia mencoba menggambarkan tentang beberapa kategori dari pembukaan-pembukaan surat yang ada di dalam Al-Quran. Pembagian karakter pembukaannya adalah sebagai berikut. Pertama, pujian terhadap Allah swt yang dinisbahkan kepada sifat-sifat kesempurnaan Tuhan. Kedua, yang menggunakan huruf-huruf hijaiyah; terdapat pada 29 surat. ketiga, dengan mempergunakan kata seru (ahrufun nida), terdapat dalam sepuluh surat. lima seruan ditujukan kepada Rasul secara khusus. Dan lima yang lain ditujukan kepada umat. Keempat, kalimat berita (jumlah khabariyah); terdapat dalam 23 surat. kelima, dalam bentuk sumpah (Al-Aqsam); terdapat dalam 15 surat.

Sedangkan Fawatih al-suwar adalah ungkapan yang menjadi penutup dari surat-surat Alquran yang memberi isyarat berakhirnya pembicaraan sehingga merangsang untuk mengetahui hal-hal yang dibicarakan sesudahnya.
            Dari kedua pengertian yang telah di tuliskan sesungguhnya hanya Allah sendiri yang mengetahuinya.Kebanyakan ulama hanya mengutarakan pendapat dan menyerahkan makna yang hakiki kepada Allah.Mereka tidak berani memberikan pendapat secara pasti.










DAFTAR PUSTAKA
Chirzin,Muhammad.1998. Al Qur’an dan Ulumul Qur’an.Yogyakarta:Dana Bhakti Prima      Yasa.
Halimuddin.2003. Pembahasan Ilmu Al Qur’an. Bandung:Rineka Cipta.
Hasbi,Ash Shiddeiqy.1972.Ilmu-Ilmu Al-Qur’an.Jakarta:Bulan Bintang.
http://kuliahdistaipi.blogspot.com/2010/03/fawatih-al-suwar.html
http://aliyahalhuda.blogspot.com/2008/05/


 

Mukhtaliful Hadis


mukhtalif merupakan bentuk isim fa’il dari kata ikhtalafa-yakhtalifu-ikhtilaf,berarti pertentangan atau perselisihan. Dengan demikian secara bahasa hadis mukhtalif adalah hadis yang bertentangan satu sama lain. Secara istilah Ilmu mukhtalif al-hadis ialah ilmu yang membahas hadis-hadis yang tampaknya saling bertentangan, lalu menghilangkan pertentangan itu atau mengkompromikannya,  disamping  membahasa  hadis  yang sulit difahami atau dimengerti lalu menghilangkan kesulitan itu dengan menjelaskan hakikatnya. istilah lain yang juga kadang digunakan ta’wil hadis,talfiq al hadis, dan musykil hadis.
Adapun yang menjadi catatan bahwa hadis hadis yang dianggap bertentangan itu adalah hadis-hadis sanad dan matan shahih. Kalau ternyata hadis itu ternyata lemah(dhoif) sanadnya , maka sudah barang tentu tidak perlu dikompromikan atau dicari takwilnya.
Mensikapi Hadis yang bertentangan dengan hadis lain, Al-Qur’an, temuan sejarah, ilmu pengetahuan bisa saja hanya sebatas pada tingkatan intepretasi atau pemahaman hadis tersebut. Maka perlu ketelitian dan kecermatan, Dr yusuf Qaradlawi menyatakan bahwa “Wajib melakukan verifikasi sebelum menghakimi bahwa hadis itu bertentangan atau kontradiksi”
    
·         Objek
Redaksi hadis yang tampak bertentangan dengan kualitas hadis setara kemaqbulannya.
·         Urgensi
-Adanya periwayatan bil ma’na
-Terdapat pemalsuan hadis dalam tranmisi
-Kesulitan memahami hadis yang kontradiktif
-Tanggapan atas orang-orang yang anti Hadis
·         Metode
1.    Metode al jam’u wa al-taufiq
Menggabungkan dan mengkompromikan hadis-hadis yang tampak bertentangan .
2.    Tarjih
Memilih dan mengunggulkan  mana diantara hadis –hadis tampak bertentangan yang kualitasnya lebih baik.
3.    Nasikh –mansukh
Mencari keterangan lebih dulu mana hadis yang datang belakangan, otomatis yang lebih awal dinasakh dengan hadis yang datang belakangan
4.    Tawaqquf
Mendiamkan sampai menemukan hadis mana yang jelas bisa diamalkan
5.    Ta’wil
·         Tokoh dan kitab  terkait
a.    Ikhtilaf al-Hadis  karya Imam Muhammad ibnu Idris al-Syafi’i(150-204H). Karya ini menjalaskan sebagian hadis-hadis mukhtalif dan cara menyelesaikannya.
b.    Takwil mukhtalif al-Hadis karya Abdullah Ibnu Muslim Ibnu Qutaibah al-Dainuri (213-276) kitab ini dengan kelebihan pada tambahan terhadap para penentang hadis.
c.    Muskykil al-Atskar karya Imam Abu Ja’far Ahmad ibn Muhammad al-Thahawi(239-321)
d.    Musykil alHadis wa Bayanuh  karya Abu Bakar Muhammad ibn Hasan al-Anshari(w.406)
Perkembangannya muncul kitab kitab baru yang menyinggung persoalan ini, seperti Manhaj Naqd inda’Ulama’ al Hadis ai Nabawi, Kaifa Nata’ammal ma’a al Sunnah al Nabawiyah, dan lain sebagainya.
·         Contoh
حد ثنا الربع قل:أخبرنا الشا فعي قل: أخبرنا عبدالعزيزبن محمد عن زيد بن أسلم عن عطاء بن يسار  ابن عباس أن رسو ل الله عليه وسلم وضأ وجهه ويديد    ومسح برأسنه مرة مرة
Rabi’ telah bercerita kepada kami, dia berkata :Imam al Syafi’I memberi kabar kepada kami , dia berkata : Abdul Azizi ibn Muhammad telah memeri kabar kepada kami , dari Zaid ibn Aslam Dari Atha’ ibn Yasar dari ibn Abbas bahwa Rasulullah berwudlu  membasuh wajah dan kedua tangannya, serta mengusap kepala satu kali-satu kali.
أخبرنا الشا فعي قل: أخبرنا سفيان بن عيينه  عن هشام بن روة  عن حمران مولى عثمان بن عفان  ان النبي صلى الله عليه وسلم توضأثلاثا ثلاثا
Imam Al Syafi’I telah memberi kabar kepada kami , dia berkata Sufyan ibn Unainah telah memberi kabar  kepada kami , dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya, dari Hamran Maulana ‘Usman bin Affan bahwa Nabi berwudlu dengan mengulang tiga kali.
Kedua hadis ini bisa diselesaikan dengan Metode al jam’u wa al-taufiq ,dengan penjelasan satu kali usapan sudah cukup, sedangkan sempurnanya tiga kali usapan.

 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2015. JOGJA MAWON - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger